Langsung ke konten utama

IPA Squad


Tersesat dan tenggelam di jurusan IPA bukanlah cita-citaku.

Yosh, sebelum masa yang katanya paling indah ini berakhir, aku jadi ingin mengenang IPA dan segala penghuninya yang telah menemaniku melewati 3 tahun belajar setiap hari. Yah, sebagai anak sekolah kalian pasti tau kalau dalam satu hari dua per tiga hidup kita dihabiskan di sekolah. Aku pun sama. Belajar pelajaran yang kadang kusuka, kadang tidak, dengan penindas-penindas yang anehnya tidak bisa aku benci.

Jangan bayangkan masa SMA-ku seindah kisah cinta Dilan dan Milea, aku tidak seberuntung itu. Sejauh ini, aku hanyalah murid ­bully-an yang terlihat pintar di kelas. Aku tidak mengalami manisnya cinta monyet dan indahnya masa berpacaran. Hidupku lurus dan datar, flat, membosankan. Setiap hari yang kuterima hanyalah penindasan dalam arti menjadi bahan candaan oleh teman-teman, ehm, maksudku anak-anak di kelasku.

Meskipun begitu, merekalah yang mewarnai hari-hariku. Walaupun pernah kelewatan dalam mengerjaiku, aku tidak pernah mendendam. Mereka tidak pernah menganggapku teman—setidaknya begitulah yang kupikirkan—dan aku pun demikian. Mereka hanya sekedar ‘orang-orang yang kebetulan satu kelas denganku’. Penindas-penindas sok keren. Tapi lucu. Tanpa mereka pun mungkin aku tidak mendapat contekan saat USBN. Anggap saja ini hubungan simbiosis mutualisme.

Okay, aku sudah kebanyakan pengantar. Sekarang, aku ingin mengabadikan penindas-penindas dan ‘teman’ku di kelas dalam sebuah narasi, agar aku tidak melupakan mereka kelak. Orang tua mudah lupa, oleh karena itu aku mengantisipasinya dengan membuat tulisan ini. Dan inilah, kesembilan belas penghuni kelas jurusan IPA, ditambah diriku, sehingga menjadi genap dua puluh. Mereka adalah ...

1.       Katalina Putri Ashari

Dia murid pindahan, sebenarnya. Ia berasal dari Banyuwangi. Saat pertama masuk sekolah, logat Banyuwangi-nya sangat kental. Aku tidak menyambutnya dengan baik di saat-saat pertama. Namun pada akhirnya, aku selalu bersamanya. Ia memiliki banyak adik dan merupakan salah satu dari mereka yang tidak beruntung karena mengalami broken home. Katalina sering menceritakan semua masalahnya padaku. Ia kelak akan menjadi wirausahawan yang hebat. Sejak kelas 6 Ketel telah menjadi kepala toko. Sampai sekarang pun ia masih suka berbisnis. Sore hari setelah pulang sekolah, ia akan berjualan makanan di belakang kampus UIN. Kenalannya banyak, mayoritas cowok. Katal pelupa dan ceroboh. Mulutnya tajam dan ia suka seenaknya sendiri. Selain itu, ia mudah tertawa dan penggemar berat Korea. Seharusnya ia sudah memiliki KTP karena usianya sudah 18 tahun namun ia menolak karena takut terlihat tua. Yah, memang, ia lahir pada 1 Desember 1999, jelas lebih tua dariku dan beberapa anak lain. Ia sosok yang baik jika kau telah mengenalnya lebih jauh.

2.       Immanuela Kristanti Maharani
Dahulu aku memanggilnya Alkena Janners dan dia memanggilku Alkana Carrie. Ia seorang nasrani dan mantan teman baikku. Dua tahun aku bersamanya menjalani hari-hari sebagai kaum minoritas (sejak kelas 10 sampai 11, hanya aku dan Rani cucu Hawa di jurusan IPA). Ikatan di antara kami sebenarnya sangat kuat sebelum datang seseorang yang menghancurkannya. Rani berbadan kecil dan imut, aku menyukai senyumnya yang lucu. Banyak cowok yang suka padanya, ia memang pandai memikat cowok. Saat kelas 1, ia berpacaran dengan Syahky—walaupun sekarang ia sangat-sangat membencinya. Ia cewek yang paling tua di kelas, lahir pada 20 November 1999 namun menolak jika dijadikan yang paling tua. Rani berzodiak Scorpio, sang pendendam. Wataknya sangat-sangat keras dan ia suka mengandalkan logika. Namun sayangnya, ia terlalu berperasaan pada orang yang dicintainya. Hubunganku dengan Rani hancur begitu saja setelah kami bertengkar via whatsapp dan akhirnya 5 bulan kita berseteru. Meskipun aku menurunkan egoku dengan meminta maaf padanya, tetap saja aku dan Rani tak bisa seperti dulu.
Sampai sekarang aku masih mencintainya dan berharap ia tidak mengenangku dengan kebenciannya.

3.       Dinda Mauriza Aulia
Sama seperti Katalina, Dinda juga pindahan saat kelas dua belas. Ia dulu bersekolah di SMA Sabilillah, SMA favorit di Kota Malang. Karena tidak kuat di-bully, ia akhirnya pindah ke SMA Taman Madya. Caranya bergaul sungguh mengesankan. Ia berhasil memikat hati para penindas dengan menjinakkan mereka. Dinda bagaikan toserba di kelas, ia membawakan jajan setiap hari dan menyediakan fasilitas untuk kami. Keberadaannya ibarat Mr. Money di acara Uang Kaget, membuat hidup tentram. Meskipun kaya, ia terlihat tidak bahagia. Orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Ia juga mengidap beberapa penyakit ‘mahal’. Saat Ujian Nasional, ia satu-satunya anak yang memilih peminatan Fisika. Ia lahir pada 12 Januari 2000.

4.       I Komang Yoga Saputra
Komang panggilannya, yang berarti anak ketiga. Ia adalah seorang Sudra asal Bali. Komang beragama Hindu. Ia bertubuh jangkung dan merupakan anak tertinggi di kelas. Panjang jari tangannya satu setengah kali lebih panjang daripada milikku. Ia suka menindasku karena dulu ia juga ditindas. Komang mulai menindas ketika ia merasa bosan atau mengantuk. Ia murid yang rajin. Perubahannya cukup signifikan. Jika di kelas 1 ia suka membolos, perlahan ia berhasil menjadi lebih niat saat pelajaran. Komang memiliki wajah putih baby face. Ibunya berjualan donat. Pernah berpacaran dengan Shofi.

5.       Oy Ardi Pangestu
Giginya mungkin tak terlupakan. Oy adalah seorang anak yang pernah di-bully saat awal masuk sekolah. Ia berasal dari Nganjuk dan medhok-nya tidak berubah hingga kelas 3. Oy satu stel dengan Hap, ia dan Hap seperti Tom and Jerry. Ia juga suka menindasku, namun guyonannya seperti anak kecil. Saat kelas 1 ia pendek, namun di kelas 3 terlihat penambahan tinggi yang signifikan pada dirinya. Entah kenapa, kadang aku pun iri, karena kulit Oy bebas dari jerawat.

6.       Alivqi Dovan Ravsanjani
Dopan, panggilannya, merupakan anak malas yang kata Vini menjadi ‘panutan’ di kelas. Terlahir pada 13 Mei 2000, Dopan sebenarnya cerdas dan pintar andai ia mau. Di kelas 2 ia pernah membolos sekian lama karena bekerja di STMJ. Saat kelas 3, ia lebih rajin dan hampir tidak pernah membolos. Kebiasaan telatnya tak bisa dihilangkan. Dopan merupakan murid pindahan di kelas 1, dulunya ia berasal dari SMK Penerbangan. Ayah kandungnya berprofesi sebagai TNI-AD, namun kudengar sekarang ia tinggal dengan ayah tirinya. Dopan juga merupakan penindas kelas berat di kelas, namun guyonannya renyah dan tidak menyinggung. Setiap perkataannya bisa membuat orang tertawa. Ia anak mama, suka curhat pada mamanya. Pernah berpacaran dengan seorang model cantik dan alumni hitz. Kulitnya putih bersih dan matanya berwarna cokelat seperti bule. Sama seperti Sandi, Ilham, dan Sanan, tulisannya sangat rapi untuk ukuran anak lelaki.

7.       Achmad Ilham Yunior Widyanto
Ia gemuk, namun di kelas 3 ia berhasil lebih kurus karena cita-citanya sebagai TNI. Dipanggil Hap oleh teman-temannya dan di kelas sering bertengkar dengan Oy. Hap tinggal di asrama TNI, ayahnya seorang tentara. Ia suka membagikan tipis-tipis di grup IPA SQUAD. Hap berkulit hitam dan berambut keriting. Aku sempat membencinya di kelas 1 karena sikapnya yang sangat seenaknya. Padahal, ia lebih muda dariku. Ia lahir seminggu setelah kelahiranku.

8.       Firsandia Annas Yudhistira
Panggilannya Gundul, karena pernah gundul. Di kelas 1 ia memiliki rambut seperti landak. Sandi satu golongan dengan Komang, Hap, dan Dopan. Ia berpacaran awet dengan Ifa, seorang anak dari luar sekolah. Sandi juara pencak silat dan ia suka mencari ‘ilmu’. Ia pun mulai niat saat di kelas 3, namun tidak terlalu menunjukkan antusiasnya saat belajar di kelas. Sandi memiliki jaket tas yang awet sampai kelas 3. Bokongnya semok, ditambah lagi ia suka menyimpan dompet tebalnya di saku belakang celana—membuatnya terlihat tambah semok. Ia pernah bekerja menjadi driver gojek saat libur sekolah.

9.       Dewa Gede Gangga Saputra Bayu Murti
Sama seperti Komang, ia juga beragama Hindu dan berasal dari Bali. Bedanya, Dewa dari kasta ksatria. Ia tidak pernah menindas dan sangat menghargai perempuan. Dewa tidak tinggi, ia juga sering terlambat. Di kalangannya, ia tidak terlalu disegani karena sikapnya yang kurang menghormati orang lain. Dewa juga murid pindahan, SMP-nya di Bali. Ia suka tertawa dan tidak bisa melafalkan huruf ‘r’. Ulang tahunnya tanggal 13 November 1999.

10.    Fernando Wira Perdana
Sekilas Nando terlihat biasa saja, namun nyatanya ia berasal dari keluarga kaya. Ia memiliki kolam pemancingan pribadi berikut restorannya. Ayahnya seorang tentara dan karena ia anak ketiga, ia dimanjakan. Saat kelas 1, ia tidak masuk lama sekali setelah MOS namun kemudian masuk kembali setelah beberapa bulan sekolah. Nando tidak putih dan di kelas 1 menjadi murid tertinggi di kelas. Bokongnya juga semok, sama seperti Sandi dan Fajar. Nando suka menindas karena hanya ikut-ikutan. Saat chat, ia berubah menjadi sangat sopan.

11.    Dary Nur Rahman
Dary pindahan dari SMA Salahudin saat kelas 2. Aku tidak menyukai omongan kasarnya dan lagaknya yang suka merendahkan. Di kelas 3, terlihat bahwa ia menyukai Dinda. Dary memiliki jenggot seperti lele, dan wajahnya dipenuhi jerawat. Ibunya guru bahasa Jepang dan sangat baik padaku. Beliau pernah memberiku hadiah ulang tahun. Dary sebenarnya murah hati. Ia bakul lele.

12.    Syahky Nagara Vataza
Tubuhnya sangat kurus seperti lidi. Dulunya ia berpacaran dengan Rani. Saki memiliki banyak adik. Sifatnya menjengkelkan, menindas sesukanya dan bersikap manis saat membutuhkan. Ia pandai mengambil hati. Sampai kelas 3, ia suka melawan guru dan tidak berubah. Dibalik semua itu, Saki adalah pekerja keras. Sudah banyak sekali lowongan kerja parttime yang ia masuki, mulai dari tukang parkir, membuat miniatur kapal, sablon, bordir, hingga tukang burger. Saki mudah belajar dan sebenarnya berbakat. Ia seorang Pisces, lahir pada 5 Maret 1999. Lulusan TD, dan pernah bersekolah di Grafika.

13.    Muhammad Andi Fajar
Ayahnya juga tentara. Skilnya di bidang futsal tak bisa dianggap remeh. Kebanyakan cowok IPA memang mantan anggota klub futsal binaan Pak Tofu, dan Fajar bersama Oy dan Sanan adalah yang masih aktif hingga kelas 3. Fajar dulunya berjerawat, namun ia berhasil mengatasinya. Bokongnya sangat semok. Ia sebenarnya baik hati namun ia suka mengerjai orang. Tulisannya tidak bisa dibaca. Pernah berpacaran lama dengan Vini. Berulang tahun pada 19 September 1999.

14.    Novan Richie Effendi
Dulu ia temanku. Sejak kelas 1 ia sudah berteman denganku, namun Rani menyukainya saat kami menginjak semester 4. Ialah yang menghancurkan hubunganku dengan Rani. Ia suka berpura-pura baik dan munafik. Sebenarnya ia sudah tua, ia lahir pada 20 November 1998—366 hari lebih tua daripada Rani—namun sikapnya masih kekanakan. Ia suka menolong namun suka menyiksa. Rani adalah pelampiasannya. Novan suka menyiksanya habis-habisan jika sedang marah. Ia tidak bisa bergaul dengan baik, terbukti dari tidak ada satu pun anak-anak di kelas yang mau berteman dengannya. Novan dan Rani akhirnya menjadi sejoli saat menginjak kelas 3.

15.    Muhammad Hasyim Abrori
Ia pindahan dari SMA 6. Tubuhnya mungil dan kerap disangka kembar dengan Aqshal. Di kesehariannya, Hasyim selalu bertiga bersama Rio dan Aqshal. Mereka bukanlah tipe anak nakal seperti Dopan dkk, namun tingkat kemesuman mereka di atas rata-rata. Hasyim suka membobol website di kawasan Dark Web dan topik obrolannya selalu antimainstream. Mereka bukan penindas. Ia baik hati dan masuk kawasan anak pintar. Lahir pada 16 Oktober 1999. Aku pernah mengintip kertas angketnya dan ternyata ia pernah berpacaran dengan seorang wanita (karena di keseharian Hasyim terlihat tak memiliki ketertarikan pada kaum hawa).

16.    Aqshal Nugravito
Kembaran Hasyim, bedanya ia lebih menekuni bidang desain. Aqshal seperti tsundere, ia cuek dan dingin. Ia berani mengumpat ketika bersama golongannya. Aqshal merupakan keponakan Bu Niken, guru Fisika kami. Ia merupakan tempat sampahku di kelas 2, saat aku memiliki masalah bersama Rani. Mereka bertiga berjasa besar karena menemaniku saat aku tidak ada teman. Namun sayangnya, aku seperti kacang lupa pada kulitnya. Aqshal lahir pada 4 Mei 2000. Ayahnya ahli di bidang komputer, dan keahliannya itu terwariskan pada anaknya.

17.    Rio Dwi Saputra
Tubuhnya gemuk. Ia seperti ‘ayah dari anak kembar’ jika bersama Aqshal dan Hasyim. Rio pernah menyukai Rani, namun tentu saja ditolak. Ia suka bercanda walau candaannya sangat garing. Sama seperti yang lain, Rio juga mengalami broken home.

18.    Dhimas Nathaniel
Ia merupakan murid pindahan di kelas 3. Ia seorang nasrani, pindahan dari SMA Corjesu. Sikapnya seenaknya sendiri sehingga ia tidak mendapat teman. Di kelas, ia hanya sebagai bayangan dan kehadirannya seolah tidak ada. Dhimas pandai membuat dan mengedit video.

19.    Vira Oktavian Abriangga
Terakhir, dialah musuh bebuyutanku. Dari kelas 1 ia suka mencari gara-gara denganku. Ibunya meninggal saat ia masih kecil. Ia tinggal di Sanan, oleh karena itu ia dipanggil Sanan. Ayahnya tentara, namun ia tidak mewarisi kegagahan ayahnya. Sanan selalu melamun, tidak pernah tersenyum, dan tak memiliki semangat hidup. Cintanya pada kakak kelas bertepuk sebelah tangan. Ia berasal dari Tuban dan penggemar Manchester United. Sanan pernah menjawab 40 nomer dengan opsi A semuanya pada try out Fisika. Omongannya suka ngelantur dan guyonnya tidak renyah. Ia kaya dan anak-anak suka memanfaatkannya. Seharusnya ia tidak kurang ajar padaku karena ia lebih muda dariku. Terlepas dari segala keburukannya, dalam futsal ia bak bintang. Ia kapten futsal dan skillnya tak bisa dipandang sebelah mata.

Merekalah sosok-sosok yang menemaniku di SMA. Tiga tahun bersama mereka biasa saja. Aku sendiri sering bertanya apakah kelak aku akan merindukan masa-masa yang datar ini. Tetapi, terlepas dari itu semua, aku selalu mendoakan kesuksesan teman-temanku. Kuharap kelak ketika kami bertemu kembali, hubungan kami sudah harmonis dan kami sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing.

See you on top, Guys!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Final Exam: Day 1

Day 1 Mapel   : Bahasa Indonesia Difficulty: Easy Hari pertama, setelah semalam aku begadang buat nyiapin seragam de-el-el aku pun bangun dari tidur jam setengah tujuh. Ahaha, aku lupa kalau hari ini wajib datang di sekolah jam 6.45. Aku sih nyantai aja, trus berangkat sampai sekolah jam tujuh lebih lima. Mengundang keroyokan ternyata, haha. Aku menciut diceramahin temen-temenku. Padahal, UN masih setengah jam lagi. Aku nunggu sambil instagraman. Habis itu, masuk ke ruangan, dan mengerjakan soal. Aih, easy . Haha, sok ngeremehin gak apa lah, ya, toh udah berlalu. Alhamdulillah, aku bisa ngerjain soal dengan yakin. Hasilnya mau gimana, biar Allah yang mengatur. Waktu masih ada satu jam lagi dan aku sudah hampir selesai. Boring menghinggapi. Enaknya ngapain, ya? Aku pun mikir, ah, iya, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan saat bosan menunggu waktu ujian berakhir. 1.        Cek lagi Pasti udah khatam kan ya denger nasihat ini. C...

Sebiru-birunya

Langit biru. Awan biru. Laut biru. Semuanya berwarna biru. Aku berkemeja biru. Kamu bergaun biru. Di tengah biru yang luas ini, perasaan kita pun sama-sama biru. Membiru dalam kelabu. Biru ini tak dapat kujelaskan lagi. Biru yang tak lagi indah, biru yang tak diharapkan, biru yang merupakan pertanda kesedihan. Kisah kita membiru seperti luka yang membiru. Pun lama kelamaan perasaan kita akan semakin biru, tak lagi ungu, merah muda, ataupun hitam sekalipun. Biru yang berkecamuk dalam hatiku dan hatimu tak seceria birunya langit siang yang berpadu dengan birunya air laut. Biru ini biru yang sedih, sendu, dan sedan. Kamu pun tak mau cerita cinta kita menjadi biru kelabu, pun juga aku. Namun saat ini biru itu tetap menggerogoti dan enggan memberi kesempatan pada warna lain untuk masuk mewarnai kisah kita. Biru yang tak diharapkan, biru kesedihan. *** "Malin," Aku mendengar suara. Suara yang merupakan suara paling lembut yang kucintai setelah suara ibuku. Suara it...

Book Review: The Secret Diaries of Miss Miranda Cheever

2 Maret 1810 Hari ini, aku jatuh cinta. Pada usia sepuluh tahun, Miranda Cheever tidak menunjukkan tanda-tanda Kecantikan Memukau. Dan ia bahkan sudah bisa menerima hal itu, sampai Nigel Bevelstoke—Viscount Turner yang menawan—berkata suatu hari nanti Miranda akan tumbuh dewasa menjadi dirinya yang sejati, dan kecantikannya akan sebanding dengan otaknya yang pintar. Dan saat itu, Miranda yakin ia akan mencintai Turner selamanya.             Namun, tahun-tahun berikutnya membawa berbagai hal tak terduga dalam hidup mereka. Turner berubah menjadi pria yang pahit dan kesepian, kebaikan hati sang viscount seakan habis tak bersisa. Tapi Miranda tak pernah melupakan kebenaran yang ia tulis di buku hariannya bertahun-tahun lalu, dan ia jelas takkan memberikan cinta sejatinya terlepas begitu saja. Yash, akhir-akhir ini aku emang lagi suka banget baca novel bergenre Historical Romance. Novel ini merupakan novel historica...