Langit biru. Awan biru. Laut biru.
Semuanya berwarna biru. Aku berkemeja biru. Kamu bergaun biru. Di tengah biru yang luas ini, perasaan kita pun sama-sama biru. Membiru dalam kelabu.
Biru ini tak dapat kujelaskan lagi. Biru yang tak lagi indah, biru yang tak diharapkan, biru yang merupakan pertanda kesedihan. Kisah kita membiru seperti luka yang membiru. Pun lama kelamaan perasaan kita akan semakin biru, tak lagi ungu, merah muda, ataupun hitam sekalipun.
Biru yang berkecamuk dalam hatiku dan hatimu tak seceria birunya langit siang yang berpadu dengan birunya air laut. Biru ini biru yang sedih, sendu, dan sedan. Kamu pun tak mau cerita cinta kita menjadi biru kelabu, pun juga aku. Namun saat ini biru itu tetap menggerogoti dan enggan memberi kesempatan pada warna lain untuk masuk mewarnai kisah kita.
Biru yang tak diharapkan, biru kesedihan.
***
"Malin,"
Aku mendengar suara. Suara yang merupakan suara paling lembut yang kucintai setelah suara ibuku. Suara itu lirih, namun ceria. Itu suaramu. Dan rupanya kamu sudah datang.
Segera kucurahkan segenap perhatianku pada sosok pecinta biru yang sedang berjalan bak putri iklan di depanku. Kamu mengenakan kaus biru, lengkap dengan tas biru dan jepit biru. Kamu memang suka biru, aku tahu itu. Aku pun juga suka biru, tapi aku lebih suka kamu. Dan kamu belum tahu itu.
Hari ini kami berdua masih sama-sama mencintai biru. Bagiku dan bagimu, biru melambangkan kedamaian, ketenangan, dan kesyahduan. Tak ada satu pemikiran pun yang datang baik di benakmu dan benakku tatkala biru yang ceria itu kelak dapat berubah menjadi biru yang kelabu. Saat itu biru menjadi warna kesukaan kita berdua.
Aku telah menggenggam mawar biru di belakang punggungku yang berkemeja biru. Kamu suka bunga juga, kan? Terlebih mawar. Namun kamu belum pernah kan menjumpai mawar yang warnanya biru seperti warna kesukaanmu? Yang selama ini kamu lihat adalah merahnya mawar, mawar yang merah semerah darah yang berwarna merah. Aku yakin kamu pasti akan terkejut ketika melihat mawar yang kubawakan ini. Mawar yang biru, bukan yang merah. Mawar merah terlalu mainstream, dan kamu dalam hidupku bukanlah hal yang mainstream. Kamu lebih dari luar biasa.
Kamu menempati kursi yang telah kutata rapi di taman ini. Aku meletakkan birunya mawar biruku di depanmu yang berbaju biru. Kamu masih menutup matamu.
"Sekarang baru boleh buka."
Kamu membuka mata. Sudah kuduga aku akan mendapatkan senyum bahagia darimu. Sebuah garis lengkung yang sangat indah tercipta dari bibirmu yang tidak berwarna biru itu. Matamu membelalak dan berbinar, menyiratkan sinar bahagia. Kamu suka. Dan aku sudah menduganya.
"Malin, untuk apa?"
"Kamu belum pernah lihat, kan? Aku memang mencarinya untukmu."
Dua bulan aku berkelana di Siberia hingga menjelajah Pegunungan Alpen untuk mendapatkan mawar yang biru itu. Kamu tak usah tau. Cukup aku saja.
"Aku suka." hanya satu kalimat darimu namun itu sudah lebih dari cukup untuk membayar perjuanganku mencari mawar biru itu.
"Aku juga suka. Tapi aku lebih suka kamu."
Akhirnya, kamu pun tahu. Akhirnya kamu tahu kenyaataan itu. Bahwa aku lebih suka kamu daripada seluruh hal apa pun di dunia ini.
Pipimu bersemu. Namun warnanya merah, bukan biru. Tak apa. Kamu tetap cantik.
"Tapi, kenapa aku?"
Pertanyaanmu itu belum pernah masuk dalam prediksiku sebelumnya. Kamu hebat, selalu hebat. Aku sendiri tidak tahu kenapa kamu. Kenapa kamu yang mengisi hatiku? Kenapa bukan orang lain yang lebih hebat darimu yang mengisi hatiku? Ah, aku lupa. Kamu hebat, sangat hebat, dan tak ada wanita yang lebih hebat darimu. Kamu lebih dari segala wanita di dunia ini.
"Karena kamu itu kamu." jawabku.
Kamu mengeryitkan alismu, tanda kamu tidak mengerti.
"Kurasa jatuh cinta tidak perlu memerlukan alasan, bukan? Bukankah jika kita jatuh cinta hanya karena suatu alasan, bagaimana jika alasan kita mencintai itu sirna? Apakah dengan ketidakadaan alasan itu perasaan kita masih sama?"
Kamu menimbang perkataanku.
"Bagaimana?" tanyaku langsung. Aku tidak suka digantung meskipun hanya satu menit.
Matamu yang tidak berwarna biru itu menyiratkan permintaan maaf. "Beri aku waktu."
Dan, kamu pun menggantungku. Kamu meminta waktu, dan dengan apa aku harus memberimu waktu? Waktu memang sepenuhnya milikmu, kau tak perlu memintanya. Aku tak bisa memaksamu karena aku tidak memiliki waktu. Kamu berlalu, dan belum kembali lagi setelah lama sekali waktu berjalan semenjak kamu meminta waktu. Dan aku pun tetap di sini bersama waktu, menunggumu.
"Malin,"
Suara itu lagi. Suaramu yang kali ini terdengar berbeda. Kamu memakai gaun warna biru, namun biru ini berbeda. Biru yang tidak secerah senyummu biasanya. Biru yang tidak membawakan kebahagiaan. Aku pun bertanya-tanya, apakah kamu juga akan memberiku biru kelabu?
Sorot matamu pun berbeda. Senyummu dipaksakan. Gestur tubuhmu kaku. Kamu tak berani menatapku. Ada apa?
"Aku minta maaf." ujarmu setelah lama waktu berjalan. Aku masih menunggumu.
Aku mencium gelagat tidak menyenangkan. "Untuk?"
Kamu tidak berani menatap mataku. "Aku menggantungmu begitu lama. Namun pengorbananmu menungguku bersama waktu tak kubalas dengan biru yang bahagia. Aku membawa biru kelabu untukmu."
Aku masih menunggu.
"Aku juga suka biru, Malin, dan aku pun sama denganmu. Aku lebih suka kau. Sangat suka."
Aku menahan bahagia yang meletup-letup dalam diriku. Kutau setelah biru yang menyenangkan ini pasti akan ada biru yang lain. Biru yang tentunya tidak menyenangkan dan tidak pernah diharapkan oleh siapa pun.
"Namun,"
Sudah kuduga, akan ada namun. Akan ada tapi.
Kamu kali ini menatap mataku dengan segenap keberanianmu. "Ternyata kita tidak bisa bersama, Malin. Aku sudah dimiliki orang lain."
"Tidak apa."
Aku ternyata kuat, ya. Jangan kira aku biasa saja. Hatiku saat ini sudah membiru, diselimuti biru yang berduka. Biru itu menghujam hatiku hingga menjadi kepingan kecil tak berbentuk. Biru itu pula menghancurkan kepingan itu hingga menjadi serpihan. Hatiku berhasil dihancurkan oleh kabar biru yang kaubawa.
Kamu menangis, mengeluarkan air mata. Bening. Namun perasaanku dan perasaanmu sama-sama membiru, dalam biru sebiru-birunya. Biru yang selama ini kau dan aku cintai, namun nyatanya biru ini juga yang menghancurkan kami.
Langit biru. Awan biru. Laut biru.
Pun bersamaan dengan kisah cinta kita yang perlahan-lahan ikut membiru.
Komentar
Posting Komentar