2 Maret 1810
Hari ini, aku jatuh cinta.
Pada
usia sepuluh tahun, Miranda Cheever tidak menunjukkan tanda-tanda Kecantikan
Memukau. Dan ia bahkan sudah bisa menerima hal itu, sampai Nigel Bevelstoke—Viscount
Turner yang menawan—berkata suatu hari nanti Miranda akan tumbuh dewasa menjadi
dirinya yang sejati, dan kecantikannya akan sebanding dengan otaknya yang
pintar. Dan saat itu, Miranda yakin ia akan mencintai Turner selamanya.
Namun, tahun-tahun berikutnya
membawa berbagai hal tak terduga dalam hidup mereka. Turner berubah menjadi
pria yang pahit dan kesepian, kebaikan hati sang viscount seakan habis tak
bersisa. Tapi Miranda tak pernah melupakan kebenaran yang ia tulis di buku
hariannya bertahun-tahun lalu, dan ia jelas takkan memberikan cinta sejatinya
terlepas begitu saja.
Yash, akhir-akhir ini aku
emang lagi suka banget baca novel bergenre Historical Romance. Novel ini
merupakan novel historical romance
pertama yang aku baca. Karena aku menikmati ceritanya, aku jadi butuh waktu
berhari-hari buat menyelesaikan novel ini. Katanya sih, si Julia Quinn ini
emang pinter banget mengarang novel bergenre historical romance, lho! Yuk, sekarang simak review buku ini buat kamu yang penasaran sama ceritanya!
Identitas
Buku
Judul :
The Secret Diaries of Miss Miranda Cheever
(Buku Harian Miss Miranda Cheever)
Penulis :
Julia Quinn
Penerjemah : Eliyanti Jacob Saleh
Rilis :
2007
Penerbit : Gramedia
Tebal :
440 hlm; 18 cm
ISBN :
978-979-22-5796-0
Sinopsis
Di awal cerita, Julia Quinn menceritakan tentang sosok
Miranda Cheever yang berbeda dari
teman-teman seusianya. Ia merupakan putri bangsawan dari seorang baronet yang sama sekali tidak pernah
menghiraukan dirinya. Ayahnya selalu berkutat pada pekerjaannya dan tidak
pernah memperhatikan Miranda, bahkan ia sendiri tidak menyadari kehadiran sosok
anaknya.
Miranda
memiliki rambut dan warna mata yang berwarna cokelat gelap, tidak sesuai dengan
kriteria cantik menurut masyarakat saat itu yaitu wanita yang berambut pirang
dan bermata biru. Miranda juga gadis yang introvert
dan pendiam, ia lebih suka memperhatikan sekelilingnya daripada ikut
berinteraksi bersama orang lain. Hal itulah yang membuat Miranda tampak tidak
menarik, berbanding dengan sahabatnya—Olivia Bevelstoke—yang memiliki senyum
secerah matahari dan kecantikan yang sempurna.
Pada
usia sepuluh tahun, saat Miranda diundang ke pesta ulang tahun Lady Olivia, ia
diejek oleh Fiona Bennet yang mengatakan bahwa dirinya jelek. Olivia adalah
sahabatnya yang setia, ia selalu membela Miranda. Di pesta ulang tahun Olivia
itulah Miranda pertama kali bertemu dengan Viscount Turner—atau bernama asli
Nigel Bevelstoke—yang merupakan kakak dari Olivia. Turner yang saat itu berusia
19 tahun berpendapat bahwa Miranda bukanlah gadis yang jelek. Ia memberi
semangat pada Miranda dan menyarankan gadis itu untuk menulis buku harian
setiap hari.
Semenjak
hari itu, Miranda telah jatuh cinta pada Turner. Setiap hari ia menuliskan
kegiatannya sehari-hari pada buku harian, selama sepuluh tahun hingga akhirnya
ia dewasa. Turner kehilangan Leticia, istrinya yang telah mengubah dirinya
menjadi pribadi yang sangat buruk sehingga ia memiliki semacam trauma untuk
menikah. Namun, Miranda berhasil merebut hatinya.
Setelah
beberapa konflik dan intrik terkait dengan perasaan Turner sebenarnya, hubungan
tersembunyi Turner dan Miranda, usaha Turner untuk menikahi Miranda, dan usaha
Olivia untuk menjodohkan Miranda dengan Winston, di akhir cerita akhirnya
Miranda mau menikah dengan Turner. Kehidupan mereka pun berjalan bahagia,
Miranda akhirnya bersaudara dengan Olivia. Namun, ada satu hal yang membuat
Miranda risau, yaitu Turner yang tidak pernah menyatakan cinta kepadanya. Lidah
Turner sendiri selalu kelu saat ingin mengutarakan rasa cintanya, hal ini
membuat Miranda berpikir bahwa Turner tak benar-benar mencintainya. Di akhir
cerita, Turner akhirnya bisa menyatakan perasaannya pada Miranda.
Kenapa
harus membaca novel ini?
Pertama kali aku mengira novel ini
hanyalah novel percintaan yang biasa saja dan membosankan. Namun, tak
sepenuhnya itu benar. Nuansa di tahun 1800-an benar-benar kental, dari segi
interior rumah, kegiatan bangsawan sehari-hari, dan cara berpikir ala lady, serta bagaimana para wanita
bangsawan di zaman itu mendapatkan jodoh seakan membawa kalian ke era Victoria.
Miranda Cheever gadis yang cerdas dan berintelektual tinggi, khas seorang lady. Meskipun ia keras kepala, ia
selalu berpikir mengandalkan logikanya dan tak mudah dipengaruhi.
Ada banyak amanat yang bisa diambil dari
novel ini, di antaranya:
Ã
Setiap
orang berhak mencintai dan dicintai, cinta yang sejati tidaklah memandang rupa
dan popularitas. Di sini Miranda benar-benar mencintai Turner meskipun dirinya
yang dulu telah hilang, dan Turner pun bersedia menikahi Miranda yang
sebenarnya tidak secantik wanita-wanita lain yang pernah ditemuinya.
Ã
Masa
lalu memang pahit, namun tak ada cara untuk memenangkannya selain
menghadapinya. Turner yang trauma akan pernikahan karena Leticia akhirnya
berhasil mendapatkan kembali kebahagiaannya setelah menikah dengan Miranda,
meskipun ia harus melawan rasa traumanya.
Ã
Cinta
tidak bisa dipaksa, ia tumbuh dengan sendirinya. Seperti Miranda yang
dijodohkan dengan Winston oleh Olivia, ia tak akan bisa benar-benar mencintai
Winston meskipun Winston memiliki segala hal yang lebih baik dari Turner. Hal
ini karena hati Miranda telah memilih Turner, dan sekeras apa pun Olivia
mengusahakan pernikahan mereka, Miranda tak akan pernah bisa mencintai Winston
dengan tulus.
Ã
Melawan
nafsu itu penting. Di novel ini Mirana sempat kehilangan akal sehatnya ketika
ia bercinta dengan Turner di sebuah pondok berburu. Ia menjadi wanita yang
benar-benar tidak tahu malu dan melepas keperawanannya untuk Turner.
Ã
Sesekali
cinta memang harus disampaikan. Turner yang tidak pernah bisa menyampaikan
cintanya pada Miranda dengan kata-kata membuat konflik di cerita ini sehingga
Miranda meragukan cinta Turner. Memang, sekali-kali cinta memang harus
diungkapkan.
Jadi, sudah ready-kah kamu menyantap hidangan manis dari Julia Quinn ini?
Hati-hati baper, ya!

Komentar
Posting Komentar