Langsung ke konten utama

Final Exam: Day 2


Day 2
Mapel : Matematika
Difficulty: Hard

          Jujur aja aku gak bisa pas ujian tadi, hiks. Padahal tadi malam aku uda SKS ngebut banget sampai jam setengah dua, eh banyak soal yang gak keluar. Rasanya sia-sia aja belajar. Walaupun aku udah nemu juga sih beberapa jawaban yang berhasil kuhitung sendiri, tapi aku gak yakin aku bakal dapet nilai istimewa buat Pak Yazid. Bahkan di 2 menit terakhir, aku belum menyelesaikan ujianku.
          Sekitar lebih dari 15 nomor dari 40 soal kujawab ngawur dengan logika dan insting. Aih, bodohnya. Aku malu pada diriku sendiri. Anak IPA, kok begini? Apa-apaan ini?
          Buramku udah penuh banget sampai kuirit biar cukup. Eh, di buram yang seribet itu jawaban yang kutemuin pun gak banyak. Sulit, kuakui. Emang dari dulu aku gak paham di Matematika SMA. Gitu mau ambil jurusan teknik, hiks, tenggelam pastinya.

          Habis ujian, aku sama Katal seperti biasa main keluar. Katal bilang mau cari perlengkapan make up buat adiknya, haha, ternyata dia udah jadi cewek sekarang mengingat betapa excited-nya dia pas memilih alat make up. Kita turun pertama di Mall Olympic Garden, eh gak ada yang bisa kita cari di sana. Akhirnya kita naik angkot lagi ke Malang Town Square, haha, di sana aku membiarkan uang keluar dompet sesukanya sampai akhirnya aku punya tanggungan utang sekitar Rp.40.000,00 ke Katal.
          Kita ke Hypermart, udah tau kan kalau di sana itu terkenal sama harganya yang miring. Roti-roti, dendeng, segala macam makanan bener-bener bersahabat sama kantong. Akhirnya kami beli roti ala Perancis, panjang banget lho, cuma Rp.8.900,00. Habis itu kita naik ke lantai berikutnya buat nyari-nyari perlengkapan make up-nya Katal. Hm, sampai rasanya kaki gak mau jalan lagi karena capek kita muter-muter.
          Kalau kemaren kita makan di Ayam Nelongso, sekarang kita makan di food court-nya Matos. Aku pesen steak ayam dan Katal ayam paprika. Bersahabat di kantong, sih, harganya di bawah 15 ribu udah lengkap sama minumannya.
 
Tetep pengen makan kok meski udah habis segini wkwk
          Aku cuma beli roti aja buat oleh-oleh di rumah. Eh rotinya ternyata gak sesuai ekspektasi. Lidah kita kaget sama makanan orang Perancis. Haha, emang dasarnya lidah-lidah ndeso sih ya.
          Di rumah, aku mencoba henna item yang tadi kubeli. Aku emang lagi cari cat kuku warna hitam yang gak mengkilap kalau dipake, biar samaan kukunya sama Sebastian-san. Dapet, sih, tapi pas kucoba ternyata cair! Kaget deh pas tumpah hennanya. Dan hasilnya pun gak sesuai ekspektasi, lagi-lagi.
          Malamnya, aku makan di luar lagi. Sama keluargaku, makan nasi uduk dan pecel lele. Alhamdulillah, bersyukur masih bisa makan enak setiap hari kayak gini dan download anime baru. Haha, aku sampai rela berdiri di pinggir jalan lho demi menyambungkan hape ke Wi-Fi yang ada di masjid. Demi kebebasan, apa pun akan kulakukan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Final Exam: Day 1

Day 1 Mapel   : Bahasa Indonesia Difficulty: Easy Hari pertama, setelah semalam aku begadang buat nyiapin seragam de-el-el aku pun bangun dari tidur jam setengah tujuh. Ahaha, aku lupa kalau hari ini wajib datang di sekolah jam 6.45. Aku sih nyantai aja, trus berangkat sampai sekolah jam tujuh lebih lima. Mengundang keroyokan ternyata, haha. Aku menciut diceramahin temen-temenku. Padahal, UN masih setengah jam lagi. Aku nunggu sambil instagraman. Habis itu, masuk ke ruangan, dan mengerjakan soal. Aih, easy . Haha, sok ngeremehin gak apa lah, ya, toh udah berlalu. Alhamdulillah, aku bisa ngerjain soal dengan yakin. Hasilnya mau gimana, biar Allah yang mengatur. Waktu masih ada satu jam lagi dan aku sudah hampir selesai. Boring menghinggapi. Enaknya ngapain, ya? Aku pun mikir, ah, iya, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan saat bosan menunggu waktu ujian berakhir. 1.        Cek lagi Pasti udah khatam kan ya denger nasihat ini. C...

Sebiru-birunya

Langit biru. Awan biru. Laut biru. Semuanya berwarna biru. Aku berkemeja biru. Kamu bergaun biru. Di tengah biru yang luas ini, perasaan kita pun sama-sama biru. Membiru dalam kelabu. Biru ini tak dapat kujelaskan lagi. Biru yang tak lagi indah, biru yang tak diharapkan, biru yang merupakan pertanda kesedihan. Kisah kita membiru seperti luka yang membiru. Pun lama kelamaan perasaan kita akan semakin biru, tak lagi ungu, merah muda, ataupun hitam sekalipun. Biru yang berkecamuk dalam hatiku dan hatimu tak seceria birunya langit siang yang berpadu dengan birunya air laut. Biru ini biru yang sedih, sendu, dan sedan. Kamu pun tak mau cerita cinta kita menjadi biru kelabu, pun juga aku. Namun saat ini biru itu tetap menggerogoti dan enggan memberi kesempatan pada warna lain untuk masuk mewarnai kisah kita. Biru yang tak diharapkan, biru kesedihan. *** "Malin," Aku mendengar suara. Suara yang merupakan suara paling lembut yang kucintai setelah suara ibuku. Suara it...

Book Review: The Secret Diaries of Miss Miranda Cheever

2 Maret 1810 Hari ini, aku jatuh cinta. Pada usia sepuluh tahun, Miranda Cheever tidak menunjukkan tanda-tanda Kecantikan Memukau. Dan ia bahkan sudah bisa menerima hal itu, sampai Nigel Bevelstoke—Viscount Turner yang menawan—berkata suatu hari nanti Miranda akan tumbuh dewasa menjadi dirinya yang sejati, dan kecantikannya akan sebanding dengan otaknya yang pintar. Dan saat itu, Miranda yakin ia akan mencintai Turner selamanya.             Namun, tahun-tahun berikutnya membawa berbagai hal tak terduga dalam hidup mereka. Turner berubah menjadi pria yang pahit dan kesepian, kebaikan hati sang viscount seakan habis tak bersisa. Tapi Miranda tak pernah melupakan kebenaran yang ia tulis di buku hariannya bertahun-tahun lalu, dan ia jelas takkan memberikan cinta sejatinya terlepas begitu saja. Yash, akhir-akhir ini aku emang lagi suka banget baca novel bergenre Historical Romance. Novel ini merupakan novel historica...