Biarkan aku menceritakan sebuah kisah padamu.
Dahulu, semasa aku masih seusia kalian—yah kau tau, saat mengalami masa paling indah yaitu SMA—aku memiliki seorang teman. Temanku itu berasal dari desa, ia tinggal bersama neneknya saat SMP dan pindah ke kota sewaktu SMA. Tidak ada yang luar biasa dari dirinya, ia hanyalah seorang mantan ketua OSIS yang tidak ingin dikenal di sekolahku, namun aku ingin kau mendengarkan cerita tentangnya.
Gadis keras kepala itu bernama Alix Rawr. Yah, bukan nama yang sebenarnya namun ia sangat menyukai nama itu entah mengapa. Alix seorang pecandu game online, sejak ia ditolak oleh orang yang menyukainya dengan alasan karena terlalu feminim, gadis itu menjadi ‘gila’ dan mulai berubah. Alix berasal dari keluarga yang tidak kaya, sehingga untuk membeli sebuah laptop gaming yang berspekulasi tinggi ia rela tidak jajan selama setahun demi memainkan Dota 2.
Sangat kusayangkan, karena dahulu Alix suka menuangkan ide gilanya menjadi sebuah karya fiksi walaupun tidak pernah rampung. Gadis itu dulu suka menulis, sejak kelas dua SD ia memulai menulis cerita. Saat itu, ia menulis tentang sahabatnya yang mati dimakan kuntilanak. Alix sangatlah moody dan mudah terpengaruh. Ia bahkan melupakan hobi menulisnya sejak kecanduan bermain game online. Aku sudah memperingatkannya berkali-kali untuk kembali ke dirinya yang dulu, namun ia tetap bersikeras.
Suatu hari, saat ia sedang asyik menyerang tower di game-nya, Alix mendapatkan notifikasi pesan masuk di Whatsapp-nya. Pesan itu dari seorang relawan yang rela mengajari kami kimia dengan senang hati, yang mengirimkan sebuah link untuk bergabung dengan sebuah grup. Dengan setengah sadar, Alix mengklik link tersebut dan akhirnya join di grup yang ternyata adalah kelas menulis kilat saat itu.
Semenjak hari itu, aku seperti mendapatkan Alix yang dulu. Awalnya ia bercerita dengan merah padam ketika ditendang seenak hati oleh seorang mentor galak saat ia gabung di grup seleksi menuju kelas yang sesungguhnya. Namun Alix adalah Alix, ia akan terus berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Setelah dua kali mengikuti seleksi, akhirnya ia bercerita dengan senyum bangga padaku bahwa ia berhasil melewati seleksi tersebut dan gabung di kelas menulisnya.
Perkembangan Alix sangatlah pesat. Ia mengikuti dua kelas menulis sekaligus, namun tetap ada saja halang rintang yang harus dihadapinya. Keinginannya untuk kembali pada Mobile Legend maupun Dota sempat menghambatnya. Bahkan, move on dari game online lebih sulit daripada melupakan orang yang telah menyakitinya. Belum lagi cemoohan orang tuanya saat tau ia mulai menulis.
“Mau makan apa kau kalau menulis terus?”
Kata-kata itu membakar telinga Alix, tentu saja. Setelah berjuang dengan berat hati, akhirnya ia menghapus permainan Mobile Legend di smartphone-nya dan mulai mengalihkan kuotanya untuk menulis artikel di sebuah koran online. Dalam satu bulan, ia berhasil menayangkan 100 artikel! Bayangkan, di tengah kesibukan kelas dua belas, dan harus menulis secara sembunyi-sembunyi, belum lagi saat keinginan main game-nya menghampiri, Alix tetap berhasil.
Saat mendapatkan reward pertama, ia memberikan reward itu pada orang tuanya dengan senyum kemenangan.
“Tidak selamanya hal yang kalian pandang buruk, akan selalu buruk, Ma,” ujarnya.
Sekarang, Alix telah berhasil menulis cerita science fiction-nya yang telah didambakan sejak lama, yang terinspirasi dari anime Sword Art Online dan game yang dimainkannya. Sekarang pun ia telah berhasil merampungkan kuliahnya di Fakultas Teknik Perminyakan di Universitas Indonesia. Alix telah tumbuh dengan baik, dan aku sangat bangga padanya. aku harap aku memiliki tekad baja yang selalu dimilikinya. Itulah istimewanya Alix, ia malas berpikir—apalagi tentang logika—dan suka mengandalkan insting, namun dengan instingnya ia selalu berhasil.
Dan taukah kau, siapa nama asli Alix Rawr yang sesungguhnya?
Dialah Ajeng Prameswari.
Dahulu, semasa aku masih seusia kalian—yah kau tau, saat mengalami masa paling indah yaitu SMA—aku memiliki seorang teman. Temanku itu berasal dari desa, ia tinggal bersama neneknya saat SMP dan pindah ke kota sewaktu SMA. Tidak ada yang luar biasa dari dirinya, ia hanyalah seorang mantan ketua OSIS yang tidak ingin dikenal di sekolahku, namun aku ingin kau mendengarkan cerita tentangnya.
Gadis keras kepala itu bernama Alix Rawr. Yah, bukan nama yang sebenarnya namun ia sangat menyukai nama itu entah mengapa. Alix seorang pecandu game online, sejak ia ditolak oleh orang yang menyukainya dengan alasan karena terlalu feminim, gadis itu menjadi ‘gila’ dan mulai berubah. Alix berasal dari keluarga yang tidak kaya, sehingga untuk membeli sebuah laptop gaming yang berspekulasi tinggi ia rela tidak jajan selama setahun demi memainkan Dota 2.
Sangat kusayangkan, karena dahulu Alix suka menuangkan ide gilanya menjadi sebuah karya fiksi walaupun tidak pernah rampung. Gadis itu dulu suka menulis, sejak kelas dua SD ia memulai menulis cerita. Saat itu, ia menulis tentang sahabatnya yang mati dimakan kuntilanak. Alix sangatlah moody dan mudah terpengaruh. Ia bahkan melupakan hobi menulisnya sejak kecanduan bermain game online. Aku sudah memperingatkannya berkali-kali untuk kembali ke dirinya yang dulu, namun ia tetap bersikeras.
Suatu hari, saat ia sedang asyik menyerang tower di game-nya, Alix mendapatkan notifikasi pesan masuk di Whatsapp-nya. Pesan itu dari seorang relawan yang rela mengajari kami kimia dengan senang hati, yang mengirimkan sebuah link untuk bergabung dengan sebuah grup. Dengan setengah sadar, Alix mengklik link tersebut dan akhirnya join di grup yang ternyata adalah kelas menulis kilat saat itu.
Semenjak hari itu, aku seperti mendapatkan Alix yang dulu. Awalnya ia bercerita dengan merah padam ketika ditendang seenak hati oleh seorang mentor galak saat ia gabung di grup seleksi menuju kelas yang sesungguhnya. Namun Alix adalah Alix, ia akan terus berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Setelah dua kali mengikuti seleksi, akhirnya ia bercerita dengan senyum bangga padaku bahwa ia berhasil melewati seleksi tersebut dan gabung di kelas menulisnya.
Perkembangan Alix sangatlah pesat. Ia mengikuti dua kelas menulis sekaligus, namun tetap ada saja halang rintang yang harus dihadapinya. Keinginannya untuk kembali pada Mobile Legend maupun Dota sempat menghambatnya. Bahkan, move on dari game online lebih sulit daripada melupakan orang yang telah menyakitinya. Belum lagi cemoohan orang tuanya saat tau ia mulai menulis.
“Mau makan apa kau kalau menulis terus?”
Kata-kata itu membakar telinga Alix, tentu saja. Setelah berjuang dengan berat hati, akhirnya ia menghapus permainan Mobile Legend di smartphone-nya dan mulai mengalihkan kuotanya untuk menulis artikel di sebuah koran online. Dalam satu bulan, ia berhasil menayangkan 100 artikel! Bayangkan, di tengah kesibukan kelas dua belas, dan harus menulis secara sembunyi-sembunyi, belum lagi saat keinginan main game-nya menghampiri, Alix tetap berhasil.
Saat mendapatkan reward pertama, ia memberikan reward itu pada orang tuanya dengan senyum kemenangan.
“Tidak selamanya hal yang kalian pandang buruk, akan selalu buruk, Ma,” ujarnya.
Sekarang, Alix telah berhasil menulis cerita science fiction-nya yang telah didambakan sejak lama, yang terinspirasi dari anime Sword Art Online dan game yang dimainkannya. Sekarang pun ia telah berhasil merampungkan kuliahnya di Fakultas Teknik Perminyakan di Universitas Indonesia. Alix telah tumbuh dengan baik, dan aku sangat bangga padanya. aku harap aku memiliki tekad baja yang selalu dimilikinya. Itulah istimewanya Alix, ia malas berpikir—apalagi tentang logika—dan suka mengandalkan insting, namun dengan instingnya ia selalu berhasil.
Dan taukah kau, siapa nama asli Alix Rawr yang sesungguhnya?
Dialah Ajeng Prameswari.
Komentar
Posting Komentar