Lembaran perjanjian itu masih utuh di genggamanku hingga detik ini.
Ah, betapa inginnya aku tertawa tergelak-gelak mengingat betapa bodohnya diriku ketika menandatanginya. Deklarasi milik dua perempuan minoritas dari kelas sebelas IPA saat akan ada satu orang lagi yang melengkapi kami. Perjanjian hoax, tak berbukti, hanya sekedar kata-kata manis belaka.
Saat itu, kami masih bersatu.
“Jannie, yang jelas, apa pun yang akan menimpa kita, kita harus tetap satu.”
Jannie—yang merupakan sahabatku dari kelas sepuluh itu—menanggapi ucapanku. “Harus, titik. Jangan pernah berubah, ya. Aku tidak akan kuat. Biarpun seluruh insan di dunia ini berubah terhadapku, aku tak masalah. Yang penting, selamanya kamu harus tetap kamu.”
Bibirku terangkat membentuk seuntai senyum. Hingga berita akan adanya murid pindahan baru dari sekolah negeri menggegerkan kami beberapa saat setelahnya.
Kondisi di kelas tidaklah menyenangkan. Hanya kami berdua cucu dari Kartini yang masih bertahan di jurusan IPA, sisanya adalah kaum Adam yang suka melakukan penindasan pada kaum minoritas. Kami berdua senasib seperjuangan, semenjak pertama kali menginjakkan kaki di SMA Taman Madya, kami tak pernah memiliki kesempatan untuk mendapatkan kemerdekaan. Laki-laki—terutama penghuni jurusan sains yang kami geluti—tidak berhati, dingin, dan kejam. Mereka tertawa saat kami menderita.
Dan kalian tau kenapa alasannya?
Hanya karena kami tidak sama dengan mereka.
Kami—anak pendiam yang memeluk buku ke manapun pergi—selamanya tak akan pernah bisa memahami mereka yang dicap sebagai badboy kelas kakap. Kami bahkan tak sedikitpun menyentuh tipe kawan mereka. Itu menurut Jannie.
Tapi menurutku, mereka tidak seburuk itu. Mungkin ada yang salah dari cara bergaul kami sehingga kami gagal beradaptasi? Yah, masih menjadi pertanyaan di benakku hingga saat ini.
Karena alasan itulah, kami berdua sangat tidak mengharapkan kehadiran murid baru yang sejenis dengan kami. Jika cewek itu aduhai, berbadan seperti gitar Spanyol dan memakai gincu merah ke sekolah, akan jadi apa kami? Aku jelas-jelas tak sudi menerimanya menjadi teman karena tentu saja cowok-cowok di kelas akan menganggapnya laksana AC di padang pasir—menyejukkan.
Dan kami, hanya menjadi pelayan pribadi si gincu merah.
Oleh karena itulah, pada tanggal 27 Februari 2017, kami meresmikan sebuah deklarasi.
Ikrar Kami – 2 Cewek 11 IPA
27 Februari 2017 11.05 A.M.
Sejak awal sampai akhir, kita akan tetap dua dalam satu. Dan selamanya akan seperti itu. Kami berjanji disaksikan meja dan kursi, bahwasanya seberat apa pun aral melintang, tak satu pun yang akan berhasil memecah kami. Sekarang dan untuk selamanya, tak akan ada rahasia sebesar semut pun di antara kami. Kami akan selalu mengingatkan, mencintai, dan menyayangi.
Ruang kelas 11 IPA
Malang, 27 Februari 2017
Atas dasar kesejahteraan perempuan,
Alkana Carrie dan Alkena Janners.
Kami pun menandatanganinya. Tanpa ragu.
Namun kini, ikrar itu hanyalah sebatas kertas lusuh tak berarti. Kau, Janners, sekarang bukan Jannie-ku lagi. Seseorang mengubahmu sedemikian rupa hingga sikapmu berbalik 180 derajat terhadapku. Seseorang mematikan hatimu.
Ketahuilah Jannie Sayang, dia tak baik untukmu. Laki-laki itu hanya memerasmu. Ia akan melakukan segalanya untuk memanfaatkanmu. Tak sadarkah kau? Kau terlalu dimabuk cinta, cinta yang salah. Dan aku, orang yang benar-benar mencintaimu sedari awal tak ingin kau lepas kendali. Tapi apa? Aku bak butiran angin bagimu. Tak ada. Richie sudah mempengaruhimu, membisikkan provokasi supaya tujuannya tercapai.
Ia menginginkan perpisahan kita.
Kita yang satu bukanlah suatu kabar baik untuknya, Jannie. Ia tak suka padaku karena aku pun mencintaimu. Dua tahun kita bersama, menjalani hari-hari tak menyenangkan di kelas, memeluk dan menguatkan satu sama lain. Aku begitu mencintaimu, sangat. Aku tak ingin kau terluka.
Hari ini, kau masih belum bertutur sapa denganku. Kau tau, Jannie? Aku menemukan kebenaran di balik sifat dingin teman-teman kita. Mereka juga menyayangimu. Tak sadarkah kau kala Richie menghajarmu setiap hari, teman-teman lelaki kita bersungguh-sungguh membelamu?
Richie yang gila, psikopat yang lolos dari rumah sakit jiwa itu, bagaimana bisa ia mempengaruhimu sehebat ini?
Bukan mauku ketika melihat memar biru di lenganmu setiap hari, Jannie. Kau bilang kau menikmati segala rasa sakit darinya. Kau bilang dengan menikmati setiap tinjuan maupun tendangan maut darinya, itu meringankan bebanmu. Omong kosong! Kau sebenarnya lemah. Kau rela menjadi objek pelampiasan supaya ia tak berubah terhadapmu. Betapa bodohnya kau!
Kewajibanku sebagai temanmu, telah selesai. Sekarang, kau sepenuhnya di bawah kontrol Richie. Aku mundur. Ternyata rasa cintaku padamu terkalahkan oleh manisnya mulut buaya darat.
Hai mantan temanku, aku tak akan membencimu. Yang kuharapkan adalah kebahagiaanmu setiap saat. Aku tak akan sakit hati atas umpatan-umpatan yang telah kaulontarkan padaku saat aku mengingatkanmu. Satu harapanku, kau mendapatkan hatimu kembali. Walaupun aku sendiri ragu, akankah hati yang sudah mati bisa dihidupkan kembali?
Kini, lembaran ikrar kita hanya menjadi lembaran palsu. Lembaran itu tak berarti tanpa dirimu di sisiku. Sebelum kita lulus, aku hanya ingin kau mengetahui sesuatu.
Aku masih sama, Alkena Janners. Tak berubah. Masih seperti dulu.
Mencintaimu, sepenuh hatiku.
Komentar
Posting Komentar