ASLI DALAM PALSU
Lihatlah aku.
Aku begitu cantik, kau tak akan menemukan seorang pun wanita di dunia ini yang kecantikannya melebihiku.
Laki-laki tidak buta, kan? Yakin kalian tidak menyukai perpaduan sempurna manik mata biru laut dan bibir merona mungilku? Serius kalian tidak jatuh cinta tatkala menyaksikan angin keasyikan membelai rambut emasku yang begitu berkilau? Oh, lihatlah tubuhku. Gitar Spanyol saja kalah dengan lekukan pinggangku. Aku cantik, sangat cantik. Aku sempurna.
Aku menawan, pesonaku berhasil menyihirmu hingga sampai nafas ini kau masih memandangku dengan sorot mata penuh cinta. Aku memang cantik, aku gadis terberuntung sedunia. Kau mencintaiku, aku tau. Aku pun sama. Mencintaimu tanpa tapi. Namun, jika semua kecantikanku ternyata palsu, masihkah kau memandangku dengan sorot mata meneduhkan seperti itu?
Disaksikan jernihnya Sungai Seine, mentari pun ikut mendengarkan pernyataan suci yang keluar dari mulutmu musim panas lalu. Di depanku terdapat sebuah berlian Siberia, hitam legam kesukaanku. Kilaunya menyilaukan, katamu berlian itu seanggun diriku. Kau bersusah payah mencarinya untukku hanya demi satu anggukan kepalaku. Aku menerimamu kala itu.
Krieeet...
Ah, kau sudah datang rupanya. Kau ternyata benar-benar tulus mencintaiku, terbukti dari kau yang tak ragu mengunjungiku setiap hari.
“Bagaimana, Chloe?” Selalu kata-kata itu yang kudengar dari bibirmu. Tapi, aku menyukainya.
Aku menatap infus yang terpasang di lenganku. “Kau yakin ingin mendengarnya, Ron?”
Kau mengangguk dengan pasti.
Aku tak kuasa memberitahu yang sebenarnya padamu. Aku tak tega kala satu butiran air matamu turun ketika melihat keadaanku. Aku hanyalah produk hasil rekayasa genetik. Aku diciptakan melalui kloning, aku tak nyata. Aku palsu. Itulah jawaban kenapa aku bisa sempurna. Karena banyak tangan yang meramu tubuhku sedemikian rupa.
“Kata dokter, usiaku pun tak sampai satu pekan,” Aku memaksakan senyum. Berusaha terlihat tegar. Aku selalu berpura-pura kala denganmu, Ron. Aku berpura-pura baik-baik saja. Aku menyembunyikan nyeri di dadaku akibat penurunan fungsi organ tubuh yang telah menimpaku ketika usiaku sudah menginjak seperempat abad. Aku menyembunyikan rasa takutku kehilanganmu.
Kau mengecup keningku. “Mau jalan-jalan?”
Aku mengangguk. Selama bersamamu, aku kuat. Tak akan ada rasa sakit sedikit pun yang menggangguku. Karena kau ada untukku. Kau tak akan membiarkanku terluka.
Suasana taman yang sejuk berbanding terbalik dengan hatiku. Pedih rasanya ketika mengetahui dirimu hanya memiliki waktu tujuh hari lagi bersama separuh jiwamu. Kecanggihan abad 23 memang menakjubkan. Aku bisa hadir di dunia berkat teknologi yang kini seperti sihir. Para ilmuwan menciptakan diriku yang baru untuk menggantikan aku yang telah mati. Tubuh ini palsu.
Namun yang kutau hingga saat ini, perasaanku terhadapmu tetaplah asli. Tak peduli jika tubuhku membusuk pun, rasa ini tetap sama. Sama untukmu, tak akan berubah. Tubuhku memang palsu, hanya rekayasa. Tapi kuyakin kau tau bahwasanya segenap cinta dariku ini bukanlah omong kosong. Rasa ini nyata, original tanpa campuran tangan ilmuwan manapun. Gejolak rindu di benakku kala menunggu kehadiranmu ini bisa kurasakan, itu merupakan bukti bahwa aku sungguh-sungguh merasakan cinta kepadamu.
“Ron...”
Kau menoleh, menatap mataku lurus-lurus dengan tatapan yang sama. Sorot yang kurindukan.
“Kau tau aku ini palsu. Kenapa kau masih memandangku dengan tatapan itu lagi?” Aku menunduk, menyembunyikan sesuatu. Bulir-bulir nakal dari mataku berebut ingin keluar membentuk sungai di pipiku. “Aku tidak nyata. Kau hanya mencintai sosok rekayasa,”
Jawabanmu selalu meneduhkan hatiku.
“Tubuhmu memang palsu, Chloe. Tapi kau sendiri baru memikirkannya, kan? Perasaanmu nyata terhadapku. Asli, semurni embun di pagi hari. Bahkan dalam wujud apa pun, aku tak peduli. Selama itu kau.”
Kecantikanku telah memudar. Helaian emas yang kubanggakan kini sudah luput dari kepalaku. Mata biru yang berbinar-binar kini kehilangan sinarnya. Namun, senyuman di bibir mungilku masih sama. Senyum termanisku untuk Ron, tak akan pernah kuizinkan berlalu ke mana pun.
Terima kasih, Ron. Kau mau mencintai sosok rekayasa yang sedang sekarat ini. Belum ada tiga hari sejak aku menikmati hangatnya pelukanmu di taman sore itu, aku harus melihatmu menangis deras. Aku sudah tak kuat, ternyata. Tubuhku hancur, kautau sendiri manusia tak akan menyamai Tuhan. Aku mati. Tubuhku mati. Namun, perasaanku tetap hidup dan terus bertumbuh. Ingatlah, aku ada di hatimu, Sayang.
Cukup, sekarang kau harus pulang. Jangan lama-lama berjongkok di tempat peristirahatan terakhirku. Kau harus kembali. Simpan aku sebagai kenanganmu, bukan sumber kesedihanmu. Aku tak ingin melihatmu terpuruk.
Tapi, kuakui aku pun tak cukup kuat, Ron. Bahkan mataku masih tergenang dalam air mata seiring dengan remuknya hatiku saat mendengar pernyataan terakhir yang bisa kudengar dari mulutmu.
“Aku mencintaimu, Chloe...”
Lihatlah aku.
Aku begitu cantik, kau tak akan menemukan seorang pun wanita di dunia ini yang kecantikannya melebihiku.
Laki-laki tidak buta, kan? Yakin kalian tidak menyukai perpaduan sempurna manik mata biru laut dan bibir merona mungilku? Serius kalian tidak jatuh cinta tatkala menyaksikan angin keasyikan membelai rambut emasku yang begitu berkilau? Oh, lihatlah tubuhku. Gitar Spanyol saja kalah dengan lekukan pinggangku. Aku cantik, sangat cantik. Aku sempurna.
Aku menawan, pesonaku berhasil menyihirmu hingga sampai nafas ini kau masih memandangku dengan sorot mata penuh cinta. Aku memang cantik, aku gadis terberuntung sedunia. Kau mencintaiku, aku tau. Aku pun sama. Mencintaimu tanpa tapi. Namun, jika semua kecantikanku ternyata palsu, masihkah kau memandangku dengan sorot mata meneduhkan seperti itu?
Disaksikan jernihnya Sungai Seine, mentari pun ikut mendengarkan pernyataan suci yang keluar dari mulutmu musim panas lalu. Di depanku terdapat sebuah berlian Siberia, hitam legam kesukaanku. Kilaunya menyilaukan, katamu berlian itu seanggun diriku. Kau bersusah payah mencarinya untukku hanya demi satu anggukan kepalaku. Aku menerimamu kala itu.
Krieeet...
Ah, kau sudah datang rupanya. Kau ternyata benar-benar tulus mencintaiku, terbukti dari kau yang tak ragu mengunjungiku setiap hari.
“Bagaimana, Chloe?” Selalu kata-kata itu yang kudengar dari bibirmu. Tapi, aku menyukainya.
Aku menatap infus yang terpasang di lenganku. “Kau yakin ingin mendengarnya, Ron?”
Kau mengangguk dengan pasti.
Aku tak kuasa memberitahu yang sebenarnya padamu. Aku tak tega kala satu butiran air matamu turun ketika melihat keadaanku. Aku hanyalah produk hasil rekayasa genetik. Aku diciptakan melalui kloning, aku tak nyata. Aku palsu. Itulah jawaban kenapa aku bisa sempurna. Karena banyak tangan yang meramu tubuhku sedemikian rupa.
“Kata dokter, usiaku pun tak sampai satu pekan,” Aku memaksakan senyum. Berusaha terlihat tegar. Aku selalu berpura-pura kala denganmu, Ron. Aku berpura-pura baik-baik saja. Aku menyembunyikan nyeri di dadaku akibat penurunan fungsi organ tubuh yang telah menimpaku ketika usiaku sudah menginjak seperempat abad. Aku menyembunyikan rasa takutku kehilanganmu.
Kau mengecup keningku. “Mau jalan-jalan?”
Aku mengangguk. Selama bersamamu, aku kuat. Tak akan ada rasa sakit sedikit pun yang menggangguku. Karena kau ada untukku. Kau tak akan membiarkanku terluka.
Suasana taman yang sejuk berbanding terbalik dengan hatiku. Pedih rasanya ketika mengetahui dirimu hanya memiliki waktu tujuh hari lagi bersama separuh jiwamu. Kecanggihan abad 23 memang menakjubkan. Aku bisa hadir di dunia berkat teknologi yang kini seperti sihir. Para ilmuwan menciptakan diriku yang baru untuk menggantikan aku yang telah mati. Tubuh ini palsu.
Namun yang kutau hingga saat ini, perasaanku terhadapmu tetaplah asli. Tak peduli jika tubuhku membusuk pun, rasa ini tetap sama. Sama untukmu, tak akan berubah. Tubuhku memang palsu, hanya rekayasa. Tapi kuyakin kau tau bahwasanya segenap cinta dariku ini bukanlah omong kosong. Rasa ini nyata, original tanpa campuran tangan ilmuwan manapun. Gejolak rindu di benakku kala menunggu kehadiranmu ini bisa kurasakan, itu merupakan bukti bahwa aku sungguh-sungguh merasakan cinta kepadamu.
“Ron...”
Kau menoleh, menatap mataku lurus-lurus dengan tatapan yang sama. Sorot yang kurindukan.
“Kau tau aku ini palsu. Kenapa kau masih memandangku dengan tatapan itu lagi?” Aku menunduk, menyembunyikan sesuatu. Bulir-bulir nakal dari mataku berebut ingin keluar membentuk sungai di pipiku. “Aku tidak nyata. Kau hanya mencintai sosok rekayasa,”
Jawabanmu selalu meneduhkan hatiku.
“Tubuhmu memang palsu, Chloe. Tapi kau sendiri baru memikirkannya, kan? Perasaanmu nyata terhadapku. Asli, semurni embun di pagi hari. Bahkan dalam wujud apa pun, aku tak peduli. Selama itu kau.”
Kecantikanku telah memudar. Helaian emas yang kubanggakan kini sudah luput dari kepalaku. Mata biru yang berbinar-binar kini kehilangan sinarnya. Namun, senyuman di bibir mungilku masih sama. Senyum termanisku untuk Ron, tak akan pernah kuizinkan berlalu ke mana pun.
Terima kasih, Ron. Kau mau mencintai sosok rekayasa yang sedang sekarat ini. Belum ada tiga hari sejak aku menikmati hangatnya pelukanmu di taman sore itu, aku harus melihatmu menangis deras. Aku sudah tak kuat, ternyata. Tubuhku hancur, kautau sendiri manusia tak akan menyamai Tuhan. Aku mati. Tubuhku mati. Namun, perasaanku tetap hidup dan terus bertumbuh. Ingatlah, aku ada di hatimu, Sayang.
Cukup, sekarang kau harus pulang. Jangan lama-lama berjongkok di tempat peristirahatan terakhirku. Kau harus kembali. Simpan aku sebagai kenanganmu, bukan sumber kesedihanmu. Aku tak ingin melihatmu terpuruk.
Tapi, kuakui aku pun tak cukup kuat, Ron. Bahkan mataku masih tergenang dalam air mata seiring dengan remuknya hatiku saat mendengar pernyataan terakhir yang bisa kudengar dari mulutmu.
“Aku mencintaimu, Chloe...”
Komentar
Posting Komentar