Langsung ke konten utama

Girl in The Mirror

     Cermin itu masih menggantung di sana, tak berubah. Begitu pula bayangan seorang perempuan mungil yang berdiri menatap wanita di depannya, yang tak lain dan tak bukan adalah dirinya sendiri. Perempuan itu memiliki perpaduan wajah yang unik—oriental sekaligus kebarat-baratan. Mata yang kecil, yang akan tampak seperti garis saja jika ia tertawa yang berpadu dengan iris berwarna biru laut nan menawan, menatap lurus-lurus bayangan yang terpantul di cermin. Tulang pipinya tegas, menandakan ia wanita yang berpengaruh dan kuat. Bibirnya mungil dan tipis, berwarna merah muda meskipun tanpa pewarna bibir. Manis sekaligus merekah, kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih pucat.
   


      Bayangan dirinya di cermin sama persis menampilkan wajah wanita yang tidak tersenyum itu. Gadis itu masih terpaku, ekspresi wajahnya tidak berubah. Ia memang gemar melakukan kegiatan yang menurut orang tidak berguna ini, hampir setiap hari. Dan ia melakukannya bukan tanpa alasan.
      Gadis berwajah pucat itu mengambil pemerah bibir, kemudian layaknya gadis-gadis lain ia menorehkan lipstik itu ke bibirnya yang sudah merah alami. Warna merah menyala yang dikenakannya senada dengan gaun seksi yang membalut tubuhnya. Gadis itu memang tidak akan pergi ke mana-mana. Namun saat ia menatap cermin kuno seperti yang sekarang ia lakukan, wanita itu selalu tampil cantik dan mengenakan pakaian terbaiknya.
     Gadis itu mengangkat tangannya perlahan, lalu menempelkannya ke cermin. Tangannya seakan menyentuh tangan di dalam cermin itu, lalu tanpa disangka-sangka, kalung berliontin yang dikenakannya menyala.
      Kalung yang semenjak tadi menghiasi leher jenjang wanita itu memancarkan warna-warna ungu, dan setelahnya, warna rambut di cermin berubah. Rambut yang bergelombang itu perlahan-lahan menghitam, tak pirang lagi seperti milik si gadis. Lampu kamar padam, jendela menutup dengan sendirinya. Angin berhembus, dengan kasar menyibakkan rambut-rambut pirang milik si gadis. Namun bayangannya tetap sama, rambutnya tetap tak terusik apa pun.
      Tiba-tiba sosok di dalam cermin berbicara. “Apa kabar, Suzanne?”
      Gadis berambut pirang yang bernama Suzanne itu menjawab, “Aku tidak baik-baik saja.”
      Gadis di dalam cermin itu hidup, ia bisa berbicara dan wajahnya masih sama persis dengan Suzanne, kecuali rambutnya. Dan satu lagi, ia tidak mengenakan kalung berliontin yang dikenakan si gadis pirang.
      “Sudah kubilang sebaiknya kauikut saja denganku.” ujar gadis dalam cermin, datar.
      Suzanne menampakkan raut wajah sedih. “Aku tidak bisa,”
      “Karena Patrick?” tanya gadis berambut hitam dalam cermin langsung ke topik. Tangan mereka masih menempel, namun gadis di dalam cermin menyatukan jemarinya kepada jari-jemari Suzanne, membuatnya saling bertaut.
       Suzanne menatap bayangan di depannya dengan nanar.
      “Ketahuilah, Kembaranku. Kautau sendiri Patrick seperti apa,” wajah di dalam cermin menunduk, membuat rambut hitamnya terlihat berkilau ditimpa sinar yang berasal dari dalam cermin. “Patrick mengurungku di sini karena ia menyadari bahwa aku memergokinya berselingkuh. Ia bukan pria baik untukmu,”
       Suzanne menatap kembarannya. “Tapi ...”
      “Ayo, ikut denganku. Kau sudah menderita selama ini. Aku tak sanggup terus-terusan memantaumu dari cermin. Aku ingin bersamamu.”
      Suzanne gamang, ia memang lelah setelah berpisah dari saudara kembarnya sejak lima tahun yang lalu. Walaupun karirnya sebagai model telah sukses sekarang, namun tanpa Charlotte, kembarannya, ia merasa hampa. Gadis malang itu dikurung di sebuah cermin tua oleh mantan pacarnya, Patrick. Laki-laki brengsek itu memang satu dari seratus penyihir paling berpengaruh di Amerika, dan Suzanne baru mengetahuinya setelah jiwa Charlotte telah terbelenggu dalam cermin. Ia bisa berkomunikasi dengan Charlotte melalui kalungnya, itu merupakan kunci untuk menemui kembarannya yang ia curi dari Patrick. Ia berkomunikasi, berbicara, dengan bayangan yang berjiwa.
       Tak ingin menunggu lama lagi, Charlotte menarik tangan Suzanne, ia berusaha keluar dari cermin dan berhasil. Separuh tubuhnya telah keluar, gadis itu tau ia tak bisa berlama-lama di dunia yang bukan tempatnya jika tak ingin mati. Suzanne tak berbuat apa-apa, ia membiarkan kembarannya merampas kalungnya dan menarik tangannya masuk ke dalam cermin.
      Suzanne tak bisa berkutik, ia lelah. Akhirnya, ia membiarkan dirinya tersedot oleh cermin kuno di kamarnya itu. Kedua gadis itu lenyap, ditelan cermin kutukan.
      Ruangan kembali seperti sedia kala. Lampu menyala, angin ribut telah pergi. Namun, cermin kuno itu kini tak bisa digunakan untuk bercermin lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Final Exam: Day 1

Day 1 Mapel   : Bahasa Indonesia Difficulty: Easy Hari pertama, setelah semalam aku begadang buat nyiapin seragam de-el-el aku pun bangun dari tidur jam setengah tujuh. Ahaha, aku lupa kalau hari ini wajib datang di sekolah jam 6.45. Aku sih nyantai aja, trus berangkat sampai sekolah jam tujuh lebih lima. Mengundang keroyokan ternyata, haha. Aku menciut diceramahin temen-temenku. Padahal, UN masih setengah jam lagi. Aku nunggu sambil instagraman. Habis itu, masuk ke ruangan, dan mengerjakan soal. Aih, easy . Haha, sok ngeremehin gak apa lah, ya, toh udah berlalu. Alhamdulillah, aku bisa ngerjain soal dengan yakin. Hasilnya mau gimana, biar Allah yang mengatur. Waktu masih ada satu jam lagi dan aku sudah hampir selesai. Boring menghinggapi. Enaknya ngapain, ya? Aku pun mikir, ah, iya, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan saat bosan menunggu waktu ujian berakhir. 1.        Cek lagi Pasti udah khatam kan ya denger nasihat ini. C...

Sebiru-birunya

Langit biru. Awan biru. Laut biru. Semuanya berwarna biru. Aku berkemeja biru. Kamu bergaun biru. Di tengah biru yang luas ini, perasaan kita pun sama-sama biru. Membiru dalam kelabu. Biru ini tak dapat kujelaskan lagi. Biru yang tak lagi indah, biru yang tak diharapkan, biru yang merupakan pertanda kesedihan. Kisah kita membiru seperti luka yang membiru. Pun lama kelamaan perasaan kita akan semakin biru, tak lagi ungu, merah muda, ataupun hitam sekalipun. Biru yang berkecamuk dalam hatiku dan hatimu tak seceria birunya langit siang yang berpadu dengan birunya air laut. Biru ini biru yang sedih, sendu, dan sedan. Kamu pun tak mau cerita cinta kita menjadi biru kelabu, pun juga aku. Namun saat ini biru itu tetap menggerogoti dan enggan memberi kesempatan pada warna lain untuk masuk mewarnai kisah kita. Biru yang tak diharapkan, biru kesedihan. *** "Malin," Aku mendengar suara. Suara yang merupakan suara paling lembut yang kucintai setelah suara ibuku. Suara it...

Book Review: The Secret Diaries of Miss Miranda Cheever

2 Maret 1810 Hari ini, aku jatuh cinta. Pada usia sepuluh tahun, Miranda Cheever tidak menunjukkan tanda-tanda Kecantikan Memukau. Dan ia bahkan sudah bisa menerima hal itu, sampai Nigel Bevelstoke—Viscount Turner yang menawan—berkata suatu hari nanti Miranda akan tumbuh dewasa menjadi dirinya yang sejati, dan kecantikannya akan sebanding dengan otaknya yang pintar. Dan saat itu, Miranda yakin ia akan mencintai Turner selamanya.             Namun, tahun-tahun berikutnya membawa berbagai hal tak terduga dalam hidup mereka. Turner berubah menjadi pria yang pahit dan kesepian, kebaikan hati sang viscount seakan habis tak bersisa. Tapi Miranda tak pernah melupakan kebenaran yang ia tulis di buku hariannya bertahun-tahun lalu, dan ia jelas takkan memberikan cinta sejatinya terlepas begitu saja. Yash, akhir-akhir ini aku emang lagi suka banget baca novel bergenre Historical Romance. Novel ini merupakan novel historica...