Hello,
Kembali lagi sama Rawr. Akhirnya aku memutuskan untuk mengabadikan cerita dalam blog semata-mata hanya untuk ajang pelampiasan. Sebelumnya, aku memang sudah pernah membuat blog seperti ini, namun alamat surelku waktu itu mengandung banyak sekali kontroversi.
Dulu,
Ia memintaku untuk mengganti atau menghapus blog tersebut. Aku menurutinya. Kini, blog itu tak akan bisa kautemui karena sudah kuhapus.
Sejak itu, aku tak lagi menulis di blog, melainkan aktif menulis di koran nasional bernas.id. Kau bisa membaca tulisan-tulisanku di http://rawrr.bernas.id. Di sana aku lebih leluasa untuk menulis konten kreatif, dan sering mendapatkan pulsa senilai 50k jika artikelku masuk kategori artikel terbaik. Menarik, bukan?
Untuk blogku kali ini, aku akan bersenang-senang. Ini adalah diary pribadiku sehingga apa pun yang kutulis di sini semuanya murni keseharianku. Aku tak akan lagi merisaukan jumlah pembaca seperti yang kulakukan di blog yang dulu. Aku tak akan membaca ulang tulisanku dan tidak peduli dengan kaidah bahasa yang kugunakan. Aku menulis diary, bukan konten kreatif ataupun berita seperti yang kulakukan saat menulis di bernas. Ini adalah rekaman hidupku, ceritaku, kisah perjalananku. Dimulai dari hari ini, aku akan terus menulis. Tak peduli jika kuota menghambat, aku tetap menulis.
Di sini aku akan melakukan semua hal sesukaku. Aku akan menulis apa pun yang ada di pikiranku, aku akan menulis semua yang ingin kutulis, aku akan melampiaskan kesalku, atau mengabadikan senangku. Aku tak peduli dengan waktu posting yang mungkin akan acak-acakan, bisa saja dalam sehari aku mem-posting lima postingan sekaligus namun setelahnya aku tidak mengisi blogku selama berminggu-minggu. Aku tidak akan memaksa diriku. Semua tergantung pada mood yang menghinggapiku. Jika aku terlalu lelah untuk menulis, aku akan tidur.
Aku mengabadikan momen-momen dalam hidupku agar aku terus hidup. Selain diary, aku akan mengisi lapak ini dengan cerpen-cerpen karyaku. Sesekali aku ingin mengabadikan hariku dalam untaian kata yang indah. Aku tak pernah membuat puisi, namun cerpen adalah minatku.
Yah, jika ada yang berkenan membaca celotehan tidak pentingku ini, tentunya aku akan berterimakasih. Kau bisa memberikan kritik saran yang membangun untukku. Aku akan sangat menghargainya.
Satu kalimat bijak yang pernah kubaca di grup menulis,
“Menulislah, maka kau akan hidup selamanya.”

Komentar
Posting Komentar